keris


Keris adalah sejenis pedang pendek yang berasal dari pulau Jawa, Indonesia.


Keris purba telah digunakan antara abad ke-9 dan 14. Selain digunakan sebagai senjata,keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Keris terbagi menjadi tiga bagian yaitu mata, hulu, dan sarung. Beberapa jenis keris memiliki mata pedang yang berkelok-kelok. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.


Keris sendiri sebenarnya adalah senjata khas yang digunakan oleh daerah-daerah yang memiliki rumpun Melayu atau bangsa Melayu.Pada saat ini, Keberadaan Keris sangat umum dikenal di daerah Indonesia terutama di daerah pulau Jawa dan Sumatra, Malaysia, Brunei, Thailand dan Filipina khususnya di daerah Filipina selatan (Pulau Mindanao). Namun, bila dibandingkan dengan Indonesia dan Malaysia, keberadaan keris dan pembuatnya di Filipina telah menjadi hal yang sangat langka dan bahkan hampir punah.


Tata cara penggunaan keris juga berbeda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang. Sementara di Sumatra, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan. Sebenarnya keris sendiri memiliki berbagai macam bentuk, ada yang bermata berkelok kelok (7, 9 bahkan 13), ada pula yang bermata lurus seperti di daerah Sumatera. Selain itu masih ada lagi keris yang memliki kelok tunggal seperti halnya rencong di Aceh atau Badik di Sulawesi.


Bagian-bagian keris


Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu wrangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.


* Pegangan keris


Pegangan keris ini bermacam-macam motifnya , untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari , pertapa, hutan ,dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia .Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau) , Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu. Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ) , jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan) ,weteng dan bungkul.


* Wrangka atau Rangka


Wrangka, rangka atau sarung keris adalah bagian (kelengkapan) keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, karena bagian wrangka inilah yang secara langsung dilihat oleh umum . Wrangka yang mula-mula (sebagian besar) dibuat dari bahan kayu (jati , cendana, timoho , kemuning, dll) , kemudian sesuai dengan perkembangan zaman maka terjadi perubahan fungsi wrangka (sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya ). Kemudian bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading. Secara garis besar terdapat dua macam wrangka, yaitu jenis wrangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong dan gandek. Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi , misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkimpoian, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang). Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman , pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana. Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ) Karena fungsi gandar untuk membungkus , sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok . Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah , dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ) , perak, emas . Untuk daerah diluar Jawa (kalangan raja-raja Bugis , Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas , disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian. Untuk keris Jawa , menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya , (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat , serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah . Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).


* Wilah


Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagianbagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola , pinarak, jamang murub, bungkul , kebo tedan, pudak sitegal, dll. Pada pangkal wilahan terdapat pesi , yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran) . Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.


Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled , bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacammacam, wilut , dungkul , kelap lintah dan sebit rontal.


Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah , dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija ,atau keris tidak lazim .


Sejarah Asal keris


Sejarah Asal keris yang kita kenal saat ini masih belum terjelaskan betul. Relief candi di Jawa lebih banyak menunjukkan ksatria-ksatria dengan senjata yang lebih banyak unsur Indianya. Keris Budha dan pengaruh India-Tiongkok Kerajaan-kerajaan awal Indonesia sangat terpengaruh oleh budaya Budha dan Hindu. Candi di Jawa tengah adalah sumber utama mengenai budaya zaman tersebut. Yang mengejutkan adalah sedikitnya penggunaan keris atau sesuatu yang serupa dengannya. Relief di Borobudur tidak menunjukkan pisau belati yang mirip dengan keris. Dari penemuan arkeologis banyak ahli yang setuju bahwa proto-keris berbentuk pisau lurus dengan bilah tebal dan lebar. Salah satu keris tipe ini adalah keris milik keluarga Knaud, didapat dari Sultan Paku Alam V. Keris ini relief di permukaannya yang berisi epik Ramayana dan terdapat tahun Jawa 1264 (1342Masehi), meski ada yang meragukan penanggalannya. Pengaruh kebudayaan Tiongkok mungkin masuk melalui kebudayaan Dongson (Vietnam) yang merupakan penghubung antara kebudayaan Tiongkok dan dunia Melayu. Terdapat keris sajen yang memiliki bentuk gagang manusia sama dengan belati Dongson.


Keris “Modern”


Keris yang saat ini kita kenal adalah hasil proses evolusi yang panjang. Keris modern yang dikenal saat ini adalah belati penusuk yang unik. Keris memperoleh bentuknya pada masa Majapahit (abad ke-14) dan Kerajaan Mataram baru (abad ke-17-18). Pemerhati dan kolektor keris lebih senang menggolongkannya sebagai “keris kuno” dan ”keris baru” yang istilahnya disebut nem-neman ( muda usia atau baru ). Prinsip pengamatannya adalah “keris kuno” yang dibuat sebelum abad 19 masih menggunakan bahan bijih logam mentah yang diambil dari sumber alam-tambang-meteor ( karena belum ada pabrik peleburan bijih besi, perak, nikel dll), sehingga logam yang dipakai masih mengandung banyak jenis logam campuran lainnya, seperti bijih besinya mengandung titanium, cobalt, perak, timah putih, nikel, tembaga dll. Sedangkan keris baru ( setelah abad 19 ) biasanya hanya menggunakan bahan besi, baja dan nikel dari hasil peleburan biji besi, atau besi bekas ( per sparepart kendaraan, besi jembatan, besi rel kereta api dll ) yang rata-rata adalah olahan pabrik, sehingga kemurniannya terjamin atau sedikit sekali kemungkinannya mengandung logam jenis lainnya. Misalkan penelitian Haryono Arumbinang, Sudyartomo dan Budi Santosa ( sarjana nuklir BATAN Yogjakarta ) pada era 1990, menunjukkan bahwa sebilah keris dengan tangguh Tuban, dapur Tilam Upih dan pamor Beras Wutah ternyata mengandung besi (fe) , arsenikum (warangan )dan Titanium (Ti), menurut peneliti tersebut bahwa keris tersebut adalah ”keris kuno” , karena unsur logam titanium ,baru ditemukan sebagai unsur logam mandiri pada sekitar tahun 1940, dan logam yang kekerasannya melebihi baja namun jauh lebih ringan dari besi, banyak digunakan sebagai alat transportasi modern (pesawat terbang, pesawat luar angkasa) ataupun roket, jadi pada saat itu teknologi tersebut belum hadir di Indonesia. Titanium banyak diketemukan pada batu meteorit dan pasir besi biasanya berasal dari daerah Pantai Selatan dan juga Sulawesi. Dari 14 keris yang diteliti , rata-rata mengandung banyak logam campuran jenis lain seperti cromium,stanum, stibinium, perak, tembaga dan seng, sebanyak 13 keris tersebut mengandung titanium dan hanya satu keris yang mengandung nikel. Keris baru dapat langsung diketahui kandungan jenis logamnya karena para Mpu ( pengrajin keris) membeli bahan bakunya di toko besi, seperti besi, nikel, kuningan dll. Mereka tidak menggunakan bahan dari bijih besi mentah ( misalkan diambil dari pertambangan ) atau batu meteorit , sehingga tidak perlu dianalisis dengan isotop radioaktif. Sehingga kalau ada keris yang dicurigai sebagai hasil rekayasa , atau keris baru yang berpenampilan keris kuno maka penelitian akan mudah mengungkapkannya.


Keris Pusaka terkenal



Keris Mpu Gandring


Keris Pusaka Setan Kober


Keris Kyai Sengkelat


Keris Pusaka Nagasastra Sabuk Inten


Keris Kyai Carubuk

Keris Kyai Condong Campur
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

type='html'>

Celana jeans adalah celana favorit semua orang. Kayaknya semua orang minimal punya 1 celana jeans deh. Celana jeans ini merupakan celana yang bisa dipakai dalam keadaan santai dan semi-formal, tergantung keadaan celananya. Flexibilitas inilah yang membuat banyak orang suka pake jeans. Nah, satu hal lain yang bikin celana jeans populer adalah karena celana jeans itu gak perlu langsung dicuci setelah dipake. Kamu pasti sudah tahu fakta yang satu itu. Tapi tahukah kamu kalau ternyata kamu bisa mengenali seseorang dari berapa lama jeans-nya gak dicuci?

Sekali Pake Langsung Cuci


Berarti kamu orangnya bersihan, cukup ribet, dan mungkin cukup kaya. Kenapa? Karena kamu ngerasa celana baru dipake sekali itu udah kotor dan kamu rela beribet-ribet ria untuk nyuci celana jeans setiap abis dipake. Nah terus kenapa kaya? Karena berarti kamu punya banyak celana lain untuk dipake setiap harinya.

Gak Dicuci 1 – 2 Bulan


Yah ini berarti kamu cukup normal lah. Kamu merasa bahwa hakekat celana jeans itu memang dipakai untuk beberapa saat sebelum akhirnya dicuci. Ini juga berarti kamu orangnya cukup efisien dan masih mikirin masalah higienis dikit.

Gak Dicuci 3 – 6 Bulan


Berarti kamu adalah seorang hipster yang berusaha membuat celana jeans kamu belel / memiliki motif secara alami. Seperti yang mungkin kamu sudah tahu, kalo celana jeans kamu pake terus dan gak dicuci itu bisa menimbulkan motif dan belel alami gitu deh. Kamu gak begitu peduli dengan masalah kebersihan atau kebauan celana tersebut, yang penting nantinya jadi keren. Atau bisa juga kamu adalah anak kosan yang males cuci celana aja sih.

Gak Pernah Dicuci Sampe Rusak


Berarti kamu beneran gak punya celana lain. Kasian. Puk puk.

Nah, kalo kamu termasuk yang mana? Silakan dishare di comments.
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

Festival lentera 2011 di Taiwan. (COURTESY OF MIAOLI GOVERNMENT)
Festival lentera 2011 di Taiwan. (COURTESY OF MIAOLI GOVERNMENT)

Menurut tradisi Tiongkok, perayaan Tahun Baru Tiongkok akan terus berlanjut sampai Festival Lentera, yang adalah tanggal 15 bulan pertama dalam kalender Tiongkok. Festival Lentera juga disebut Festival Yuanxiao, yang dalam dialek Hokkian disebut Cap Go Meh, yang tahun ini jatuh pada 17 Februari 2011 lalu.

Sejarah Festival Lentera

Ada banyak legenda tentang asal usul festival lentera.

Salah satu cerita berasal dari masa Kaisar Qin Shihuang (259-210 SM), kaisar pertama yang mempersatukan negara Tiongkok. Dahulu kala dipercaya Dewa Langit lahir pada hari kelima belas bulan pertama. Karena Dewa Langit mengendalikan seluruh nasib umat manusia dan memutuskan kapan akan timbul kekeringan, badai, kelaparan atau wabah penyakit, maka secara khusus kaisar akan berdoa kepada Dewa Langit agar diberikan cuaca dan kesehatan yang baik pada hari itu.

Cerita lain yang populer menceritakan Kaisar Mingdi (57-75 SM) dari Dinasti Han Timur yang mengutus seorang cendekiawan ke India untuk mempelajari kitab-kitab Buddha. Setelah perjalanan ribuan mil, sang cendekiawan akhirnya kembali dengan kitab suci pada hari kelima belas bulan pertama. Begitu senangnya Kaisar hingga ia memerintahkan orang untuk mempertunjukkan parade lentera pada malam itu, karena diyakini bahwa kekuatan Buddha dapat menghalau kegelapan.

Sejak saat itu, semua kaisar berikutnya turut memerintahkan upacara lentera yang meriah setiap tahunnya. Pada Dinasti Tang (618-907 M), lentera akan dipamerkan selama 3 hari, sedang pada masa Dinasti Song (960-1279 M), lentera dipamerkan selama 5 hari. Upacara ini kemudian menjadi festival penting yang dirayakan bersama-sama dari semua kalangan masyarakat. Banyak kaca warna-warni dan bahkan giok digunakan untuk membuat lampion, dengan tokoh-tokoh dari cerita rakyat dilukis pada lentera.

Saat ini, memamerkan lentera masih merupakan acara besar pada hari kelima belas bulan pertama di seluruh Tiongkok. Ini adalah malam tahun pertama bagi orang untuk melihat bulan purnama. Saat itu, banyak lentera berwarna-warni akan digantung untuk dipertontonkan. Orang-orang pun akan disuguhi suasana malam yang terang benderang. Pemandangan yang sangat mengesankan! Semua anggota keluarga bersatu dalam suasana gembira dan makan Yuanxiao.


Festival lentera 2011 di Taiwan. (COURTESY OF MIAOLI GOVERNMENT)

Cerita tentang Yuanxiao

Kebanyakan orang Tionghoa masih menyebut Festival Lentera dengan Festival Yuanxiao. Yuanxiao adalah bola-bola kecil yang terbuat dari tepung beras ketan dengan isi di dalamnya, atau lebih dikenal di Indonesia dengan nama ronde.

Yuanxiao awalnya adalah sebuah nama dari seorang pelayan istana yang bisa membuat bola ronde yang lezat untuk Kaisar Wudi (156-87 SM). Sejak ia bekerja di istana, ia kehilangan kontak dengan orang tua dan saudara-saudaranya, karena adanya larangan bagi anak perempuan istana untuk menghubungi keluarga mereka.

Dia sangat merindukan keluarganya, hingga suatu hari ketika ia sedang menangis di kebun, Menteri Dong, yang sedang mengambil beberapa bunga plum untuk kaisar, melihatnya menangis. Setelah mendengar ceritanya, Menteri Dong berjanji untuk membantunya.

Keesokan harinya, Dong menempatkan meja dan kursi di pasar dan berpura-pura menjadi peramal. Setiap orang yang datang untuk meminta keberuntungan, mengambil batang bambu dengan isi ramalan “Terbakar pada tanggal 16 bulan pertama.” Fenomena ini sontak menyebabkan banyak kekhawatiran di kalangan masyarakat.

Hal ini dilaporkan kepada Kaisar Wudi, yang juga merasa khawatir. Ia segera memanggil semua menteri ke istana dan meminta nasihat. Semua menteri terdiam membisu, karena mereka terlalu takut untuk mencari solusi apapun.

Menteri Dong menyarankan: “Para dewa api suka makan bola ketan manis. Kita bisa meminta Yuanxiao untuk membuat beberapa bola ketan manis untuk melayani Kaisar dalam sebuah upacara doa pada malam hari sebelum tanggal enam belas. Semua warga negara harus pergi keluar dan menyalakan kembang api untuk mengusir nasib buruk. Jika percikan kembang api berada di mana-mana, akan terlihat seperti kita terbakar di sini. Kaisar Langit sangat penyayang dan dia mungkin mencegah dewa api agar tidak menghukum kita.” Kaisar Wudi sangat senang pada saran Dong dan memerintahkan untuk melakukan apa yang dikatakan Dong.

Jalanan menjadi sangat ramai pada tanggal 15 malam. Yuanxiao berada di jalan bersama dengan gadis-gadis istana lainnya, masing-masing dari mereka membawa semangkuk bola ketan yang dibuat Yuanxiao, atau tiang bambu panjang dengan lentera menggantung di salah satu ujungnya. Ketika orang tua dan saudara gadis itu melihat lentera dari istana dengan dua karakter Yuanxiao, mereka menjadi sangat gembira dan berteriak keras: “Yuanxiao!” Setelah mendengar namanya diteriakkan, Yuanxiao pun dapat menemukan kembali orang tua dan saudaranya. Akhirnya seluruh keluarga dapat berkumpul kembali pada waktu itu.

Yuanxiao telah menjadi bagian penting dari Festival Lentera sejak itu.

Di Tiongkok sendiri, cara untuk membuat Yuanxiao sangat bervariasi. Berbagai isi dalam Yuanxiao bisa manis maupun asin. Yuanxiao di masa lalu, biasanya rasanya manis, dengan isi terbuat dari gula, kenari, wijen, kelopak mawar, kulit jeruk manis, pasta kacang merah, pasta biji teratai, maupun pasta buah. Sebuah bahan tunggal atau kombinasi apapun dapat digunakan sebagai isi. Pada zaman modern, berbagai asinan dari daging cincang, sayuran, maupun kombinasi di antara keduanya telah ditambahkan.

Metode yang biasa diikuti di provinsi selatan adalah membentuk adonan tepung beras hingga berbentuk bola, membuat lubang, mengisi, kemudian menutup lubang, dan meratakan bola ketan dengan cara menggulungnya menggunakan kedua telapak tangan Anda.

Di Tiongkok Utara, bahan yang biasa digunakan adalah isian manis yang tidak mengandung daging. Bahan pengisi ditekan ke dalam, kemudian dicelupkan ke dalam air, dan digulung di dalam keranjang datar berisi tepung beras ketan yang kering. Terus digulung, seperti bola salju yang bergulir, sampai terbentuk ukuran bola yang diinginkan.


KIRI: Yuanxiao yang dijual di Taiwan. KANAN: Yuanxiao yang siap disajikan.


Sumber : http://www.epochtimes.co.id/china.php?id=802

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati


Nama Enterobacter sakazakii

Enterobacter sakazakii (Cronobacter spp.) adalah bakteri Gram negatif berbentuk batang yang tidak membentuk spora. Pada awalnya, bakteri ini hanya dikenal sebagai Enterobacter cloacae yang memiliki pigmen kuning. Pada tahun 1980-an Farmer dkk
mengidentifikasinya sebagai spesies baru dan mengusulkan nama Enterobacter sakazakii sebagai penghargaan kepada peneliti Jepang Riichi Sakazaki.

Berdasarkan sifat biokimiawinya saat ini terdapat 16 kelompok E. sakazakii yang telah diketahui. Dengan bertambahnya pengetahuan tentang sifat-sifat E. sakazakii pada tahun 2007 Iversen dkk mengusulkan E. sakazakii untuk menjadi genus baru Cronobacter spp. Karena nama yang terbilang baru tersebut, maka panduan internasional yang diterbitkan pada tahun 2008 masih mencantumkan baik E. sakazakii
maupun Cronobacter spp.

Perilaku E. sakazakii dalam Pangan

Bakteri E. sakazakii tumbuh pada rentang suhu yang luas yakni 6-47°C. Beberapa galur yang diisolasi dari susu formula di Kanada bisa tumbuh pada 5,5-8,0°C dan terhambat pada suhu 4°. Rata-rata waktu pembelahan bakteri ini dalam susu formula adalah 40 menit pada 23°C dan 4.98 jam pada 10°C.

Artinya, jika ada 1.000 bakteri ini dalam susu formula yang sudah direkonstitusi (dibuat siap minum) maka setelah disimpan pada suhu 23°C selama 40 menit jumlahnya menjadi 2.000. Pada suhu lemari es (10°C), kenaikan jumlah tersebut baru dicapai setelah 5 jam. Batas aktivitas air (aw) dan pH pangan untuk pertumbuhannya belum banyak dilaporkan.

Karena E. sakazakii tidak membentuk spora maka bakteri ini mudah dibunuh oleh panas. Dalam beberapa kajian, dilaporkan bahwa nilai D60 E. sakazakii adalah 2,5 menit, artinya untuk menurunkan jumlah E. sakazakii menjadi 1/10-nya, diperlukan pemanasan pada suhu 60 derajat Celcius selama 2,5 menit.

Sebagai gambaran, jika jumlah awalnya 1.000 per mililiter, maka pemanasan pada suhu 60 derajat Celcius selama 2,5 menit, 5 menit, 7,5 menit, 10 menit akan menurunkan mikroba menjadi berturut-turut 100, 10, 1 dan 0.1 per mililiter. Karena terdiri dari berbagai jenis, maka ketahanan panas bakteri ini cukup beragam dan beberapa bersifat toleran terhadap panas.

Peneliti lain di Korea melaporkan bahwa rekonstitusi susu formula dengan air bersuhu 50°C akan menyebabkan bakteri berkurang menjadi 1/100-nya, sementara dengan suhu 65-70°C terjadi penurunan E. sakazakii menjadi 1/10.000 sampai 1/1000.000-nya (Kim & Park, 2007). Meskipun tidak tahan panas, E. sakazakii ini dilaporkan tahan terhadap kekeringan E. sakazakii tidak tumbuh tetapi dapat bertahan dalam produk kering sampai dengan beberapa bulan.

Penyakit Karena E. sakazakii (Cronobacter spp.)

Dalam dua puluh tahun terakhir terkumpul sejumlah data tentang infeksi pada kelompok bayi rentan karena E. sakazakii yang mencemari susu formula. Infeksi tersebut dilaporkan dapat menyebabkan gejala penyakit neonatal meningitis bacteremia, necrotizing enterocolitis (NEC), dan necrotizing meningoencephalitis (Muytjens & Kollee, 1990).

Selama rentang 1958-2002 di seluruh dunia, terdokumentasikan 25 peristiwa infeksi E. sakazakii yang melibatkan 60-an bayi (Iversen & Forsythe, 2003). Dari 25 peristiwa yang terjadi, delapan di antaranya dapat dikaitkan dengan konsumsi susu formula. Jumlah peristiwa infeksi ini tergolong rendah jika dibandingkan dengan patogen lain seperti Salmonella. Oleh karenanya, the International Commission for Microbiological Specification for Foods (ICMSF, 2002) memeringkatkan bakteri ini sebagai cemaran dengan tingkat bahaya yang parah untuk populasi yang terbatas.

E. sakazakii tergolong sebagai patogen pangan 'emerging' yang perlu diwaspadai karena dalam 20 tahun terakhir ditengarai dapat mengakibatkan penyakit melalui makanan. Bakteri ini juga dikategorikan sebagai 'patogen oportunistik', yakni patogen yang menyebabkan penyakit pada kelompok rentan yang memiliki kekebalan rendah.

Kelompok yang rentan terhadap E. sakazakii adalah bayi berusia kurang dari 1 bulan atau bayi lahir prematur atau bayi dengan berat badan lahir rendah atau bayi dari ibu yang menderita AIDS (Acquired Immuno Deficiency Syndrome). Meskipun tidak ada bukti secara epidemiologis tentang dosis infeksinya, Iversen & Forsythe (2003) memperkirakan bahwa diperlukan 1.000 sel untuk terjadinya infeksi oleh E. sakazakii.

Sampai saat ini, ada beberapa faktor yang dimiliki oleh E. sakazakii yang diduga berperan dalam terjadinya penyakit di antaranya protein invasin dan enterotoksin. Penelitian tentang faktor virulensi bakteri ini terus berlangsung di berbagai negara termasuk upaya untuk menemukan struktur enterotoksin yang dihasilkan.

Sumber E. sakazakii

E. sakazakii (Cronobacter spp.) telah diisolasi dari berbagai sumber seperti lingkungan (tanah, air) dan makanan. Selain susu formula, makanan yang pernah dilaporkan mengandung bakteri ini antara lain keju, roti, tahu, teh asam, daging yang dikering, daging cacah dan sosis. E. sakazakii juga ditemukan pada khamir roti karena bakteri ini merupakan bagian dari flora permukaan biji sorghum dan biji padi.

Meskipun demikian selain susu formula pangan di atas tidak pernah dilaporkan menyebabkan infeksi E. sakazakii. Hal ini mungkin disebabkan karena makanan tersebut tidak dikonsumsi oleh kelompok bayi rentan di atas.

E. sakazakii dan Susu Formula

Terjadinya pencemaran susu formula oleh E. sakazkakii diduga bisa terjadi oleh kontaminasi eksternal yaitu penanganan yang buruk saat merekonstitusi susu formula
dengan air atau kontaminasi internal selama produksinya. Pencemaran selama penyiapan dapat terjadi dari orang, piranti, debu atau lingkungan serta air yang digunakan.

Pencemaran selama produksi kemungkinan terjadi setelah proses pasteurisasi susu yaitu selama pengeringan, selama pencampuran kering dan atau pengemasan. Karena akumulasi laporan terkait E. sakazakii dan susu formula ini, sejak tahun 2004 lembaga pangan dunia Codex Alimentarius Commission, FAO/WHO bekerjasama dengan lembaga-lembaga pakar dan negara anggota Codex mendiskusikan data-data ilmiah terkait temuan E. sakazakii dari berbagai negara dan melakukan analisis risiko dengan data yang terkumpul tersebut.

Hasil kajian risiko selama beberapa tahun tersebut akhirnya bermuara pada diterbitkannya panduan Codex tentang proses dan pengujian susu formula untuk produsen susu formula, serta panduan bagi rumah sakit maupun rumah tangga dalam menyiapkan (merekonstitusi) susu formula untuk diberikan pada bayi.

Panduan bagi produsen yang dikeluarkan oleh Codex pada tahun 2008 segera diadopsi
oleh banyak negara termasuk oleh Indonesia melalui suatu Ketetapan Badan pengawas
Obat dan Makanan. Panduan tersebut mensyaratkan pengujian bakteri E. sakazakii yang
sebelumnya tidak dipersyaratkan di mana pun di seluruh dunia. Persyaratan produksi
dan pengujiannya relatif ketat, meski tidak seketat untuk Salmonella yang dianggap
lebih tinggi frekuensi kasus infeksinya.

Panduan Codex tersebut mensyaratkan untuk tiap lot produksi dilakukan pengujian sebanyak 30 sampel masing-masing 10 g dan tidak boleh ada satu sampel pun yang terdeteksi mengandung E. sakazakii. Jika ditransformasikan secara statistika berdasarkan ICMSF (2002) maka suatu lot susu formula akan tidak boleh diperdagangkan jika rata-rata jumlah E. sakazaki-nya lebih dari 1 dalam 278 g susu.

Panduan bagi konsumen maupun rumah sakit lebih dititikberatkan pada praktik sanitasi yang baik bagi orang (pekerja), air, botol yang digunakan untuk merekonstitusi susu formula serta pembatasan waktu untuk tidak menyimpan susu formula yang telah direkonstitusi pada suhu kamar lebih dari 2 jam. Sebagai tambahan, beberapa negara juga mengadopsi panduan dari WHO (2007) yang merekomendasikan rekonstitusi dengan menggunakan air bersuhu 70 derajat C untuk meminimalkan risiko patogen ini.

Penutup

Sebagai patogen pangan 'emerging' yang baru mulai didiskusikan tahun 2004 di tingkat internasional, E. sakazakii termasuk contoh sukses dalam mengelola patogen baru. Karena diskusi dan pengaturan dibuat cukup awal, maka sampai sekarang tidak terjadi peristiwa infeksi E. sakazakii karena susu formula dalam skala besar yang menandakan bahwa patogen ini terkendali.

Dalam perkembangan teknik deteksi mikroba dan teknologi informasi yang pesat ini, bukan tidak mungkin berbagai patogen baru akan muncul. Apabila para ilmuwan cukup
cepat mengambil bagian dalam penelitian dan datanya dapat dikontribusikan pada kegiatan analisis risiko, maka berbagai patogen yang bermunculan akan dapat diantisipasi dan dikelola dengan baik.


Bahan Bacaan:


CAC (Codex Alimentarius Commission). 2008. Code of Hygienic Practice fpr Powdered
Formulae for Infants and Young Children.
http://www.codexalimentarius.net/download/standards/11026/cxp_066e.pdf

Farmer, J.J., Asbury, M.A., Hickman, F.W. Brenner, D.J. and The Enterobacteriaceae
study group.1980. A new species of Enterobacteriaceae isolated from clinical
specimens. Intl. J. Systematic Bacteriol. 30 (3): 569-584.

ICMSF (International Commission on Microbiological Specification for Foods). 2002.
Microorganisms in Foods 7. Microbiological Testing in Food Safety Management.
Kluwer Academic, NY.

Iversen C dan Forsythe SJ. 2003. Risk Profile of Enterobacter sakazakii, an
emergent pathogen associated with infant milk formula. Trends in Food Science and
Technology 14: 443-454.

Iversen, C., Lehner, A., Mullane, N.,Bidlas, E., Cleenwerck, I., Marugg, J.,
Fanning, S., Stephan, R. And Joosten, H. 2007. The taxonomy of Enterobacter
sakazakii: proposal of new genus Cronobacter gen.nov. and descriptions of
Cronobacter sakazakii comb.nov. Cronobacter sakazakii subsp. sakazakii, Cronobacter
sakazakii subsp. malonaticus sbsp.nov., Cronobacter turicensis sp.nov., Cronobacter
muytjensii sp.nov., Cronobacter dublinensis sp.nov. and Cronobacter genomospecies
I. BMC Evolutionary Biology 7 (64).

Kim S-H dan Park J-H. 2007. Thermal resistance and inactivation of Enterobacter
sakazakii isolates during rehydration of powdered infant formula. J Microbiol
Biotechnol. 17 (2): 364-368.

Muytens, H.L., Zanen, H.C., Sonderkamp, H.J., Kollee, A., Wachsmuth, I.K., Farmer,
J.J. 1983. Analysis of eight cases of neonatal meningitis and sepsis due to
Enterobacter sakazakii. J. Clin. Microbiol. 18 (1):115-120.

Muytjens HL dan Kolle LA. 1990. Enterobacter sakazakii meningitis in neonates :
causative role of formula? Pediatric Infectious Disease 9: 372-373.

WHO/FAO (World Health Organization and Food and Agriculture Organization of the
United Nations). 2007. Safe Preparation, Storage and Handling of Powdered Infant
Formula Guidelines.

*) Dr Ratih Dewanti-Hariyadi adalah dosen di Departemen Ilmu dan Teknologi Pangan Peneliti di SEAFAST Center, Institut Pertanian Bogor. Juga menjadi anggota the
International Commission on Microbiological Specifications for Foods (ICMSF) pada
2007 sampai sekarang.

Sumber : http://www.detiknews.com/read/2011/02/22/182348/1576582/103/mengenal-enterobacter-sakazakii--cronobacter-spp-?nd991107103
Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati