Demi ketersediaan pustaka buku digitalnya, pihak Google yang menjalin kerjasama dengan sebuah Committee on Institutional Cooperation (CIC) yang menaungi pustaka universitas dan beranggotakan beberapa perwakilan universitas besar di Amerika Serikat, dikabarkan baru saja telah berhasil melakukan scan terhadap satu juta pustaka buku universitas yang selanjutnya dibuatkan bentuk digitalnya agar dapat dengan mudah tersedia dan diakses oleh semua orang di dunia.

Dengan keberhasilan tersebut, seakan telah menjadi tonggak terpenting dari apa yang pihak Google telah lakukan selama ini. Dan ini yang jelas telah sesuai dengan tujuan dan strategi Google untuk menjadikannya sebagai salah satu sumber pustaka ilmu pengetahuan dunia.

Seperti yang diketahui bersama, pihak Google sendiri telah berupaya keras untuk membuat salinan digital yang berasal dari setiap buku di dunia. Dan untuk mewujudkan dan menyukseskannya, pihak Google telah melakukan mitra kerjasama dengan berbagai kalangan penerbit, perpustakaan dan kini pihak perguruan tinggi. Sejauh ini kabarnya Google telah berhasil melakukan scan terhadap jutaan buku dan perjalanan panjang di depan pun tampaknya telah siap menanti.

“Hari ini Kami merayakan tonggak penting dimana baru saja Google telah berhasil mendigitalkan satu juta buku dari perpustakaan anggota Komite Kerjasama Institusional (CIC),” Ungkap Kim Armstrong, wakil direktur Pusat Perpustakaan Inisiatif untuk Komite Kerjasama Kelembagaan.

CIC sendiri merupakan konsorsium dari Sepuluh anggota universitas besar dan Universitas Chicago.

Masing-masing isi buku telah dilakukan scan, diterjemahkan dari gambar ke teks dengan teknologi Optical Character Recognition (OCR) dan juga telah ditambahkan ke Google Books index. Setelah dibuat digitalnya, buku-buku yang ada kemudian dikirim kembali ke perpustakaan asalnya untuk ditempatkan ke rak masing-masing.

Kemitraan yang lebih jauh antara Google dan CIC merupakan sebuah langkah awal dalam hal ini. Keduanya akan terus menjalin kemitraan untuk melakukan scan sekitar 10 juta buku dari perpustakaan universitas yang ada, dari jumlah keseluruhan yang ingin discan mendekati 85 juta.

Hasil scan buku kini telah tersedia di Google Books. Dan semua universitas telah menerima salinan dari versi digitalnya dan beberapa diantaranya bahkan telah membuatnya tersedia sendiri.

Sampai saat ini Google telah berhasil memindai lebih dari 15 juta buku yang kini tersedia di Google Books, meskipun tidak semua secara penuh. Beberapa buku, masih di bawah hak cipta hanya dicari di dalam Buku dan mesin pencari Google itu sendiri, tetapi tidak tersedia untuk dilihat secara penuh di Google.

Sumber : http://teknopologi.wordpress.com/2011/02/08/google-lakukan-scan-satu-juta-pustaka-buku-universitas/

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati

type='html'>
Ki Manteb Sudarsono tengah mencermati wayang yang menjadi koleksi Museum Radya Pustaka Solo, Selasa (8/2).

Dalang kondang Ki Manteb Sudarsono secara khusus menyambangi museum tertua di Indonesia Radya Pustaka. Kedatangannya kali ini dalam rangka melihat bukti akurat terkait adanya dugaan pemalsuan wayang yang menjadi koleksi museum Radya Pustaka. Dengan hasil pengamatannya secara langsung, Ki Manteb menyebut dan mengakui bahwa hampir seluruh wayang yang ada di Radya Pustaka adalah palsu.

Ki Manteb mengamati secara seksama satu per satu wayang peninggalan raja Pakubuwono (PB) dari balik kaca. Hasilnya, ia menyebut sebagian besar wayang yang terpampang di bagian depan setelah pintu masuk museum adalah hasil salinan. “Seperti contohnya wayang Putren yang asli cuma tinggal satu, lalu wayang Gedhogini masih kurang antara 5 sampai 6 jumlahnya, begitu juga dengan wayang Tengenmasih kurang antara 9 sampai 10. Hanya Putren yang masih menyisakan aslinya itu pun cuma tinggal satu,” ujarnya kepada para wartawan di Museum Radya Pustaka, Selasa (8/2).

Saat ditanya soal alasannya dengan menyebut sejumlah wayang di Museum Radya Pustaka adalah dapat dilihat dari ciri fisiknya. “Kalau Dalang seperti saya melihat wayang seperti ini akan dapat ketahuan asli atau palsu. Ini palsu karena dedege luwih cendek (perawakannya lebih pendek) atau kurang tinggi, padahal wayang asli itu perawakannya tinggi. Belum lagi warnanya yang tidak seperti wayang asli,” lanjutnya.

Secara terpisah, Ketua II Komite Museum Radya Pustaka, Sandjata, mengaku sedikit kecewa dengan kehadiran Dalang Ki Manteb Sudarsono yang menurutnya datang tanpa permisi dulu. “Saya itu seperti kecolongan saja. Wong saya itu kan ibaratnya yang punya tempat ini, lha kok tiba-tiba datang seperti tanpa permisi terlebih dahulu dan untuk apa kedatangannya,” katanya.

Sementara tanggapannya mengenai pernyataan Ki Manteb yang menyebut hampir semua koleksi wayang di Radya Pustaka ini adalah palsu, pihaknya mengaku tidak menahu soal hal tersebut. “Terus terang saja, saya masuk (bekerja) pertama kali di sini memang sudah seperti ini keadannya,” pungkasnya.

Sumber : http://sosial.timlo.net/baca/6967/hampir-semua-wayang-koleksi-radya-pustaka-palsu

Read more »
These icons link to social bookmarking sites where readers can share and discover new web pages.
  • Digg
  • Sphinn
  • del.icio.us
  • Facebook
  • Mixx
  • Google
  • Furl
  • Reddit
  • Spurl
  • StumbleUpon
  • Technorati